"Ada satu yang membuat orang tidak percaya kepada Pancasila karena sila-sila pada Pancasila tidak ada wujudnya di sini. Ketuhanan yang Maha Esa, misalnya, berganti jadi keuangan yang mahakuasa. Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi orang kejam dan sadis. Persatuan Indonesia, menjadi pertengkaran di mana-mana. Kerakyatan tidak ada, yang ada di sini adalah elitisme,"
Hawaya
A playground
Senin, 18 April 2022
Membaca dari Hati [1]
Rabu, 09 Maret 2022
Surat untuk Para Perokok
Jangan berburuk sangka padaku perihal surat yang aku tulis ini. Aku tidak akan nyinyir tentang pilihan hidup kalian. Pak Juwadi, my father, juga perokok berat yang setiap harinya udah macam kereta asap, mengepul terus menerus. Aku jelas tumbuh dengan asap rokok yang menempel di bajuku sejak aku kecil. Bisa dibilang aku juga a second hand smoker alias perokok pasif. Untuk meyakinkan kalian, biar aku sebutkan beberapa nama idolaku yang juga perokok, Dzawin Nur dan Bryan Barcelona.
Aku tidak mengeluh untuk itu. Iya, aku legowo.
Meskipun aku menerima, tetap aku putuskan untuk menulis surat ini demi keselamatan kita bersama dan demi meminimalisir hati dongkol ketika di jalan. Tidak banyak yang aku minta, hanya dua.
Permintaan Pertama
Dengan segala kerendahan hati, tolonglah pertimbangkan kondisi dan tempat ketika merokok. Aku pribadi masih bisa bertoleransi dengan berbatang-batang rokok yang kalian bakar di tongrongan, di perkumpulan, juga di angkringan. Tapi, tidak dengan di jalan. Jika kalian merasa pernah merokok sambil mengendarai motor, bertaubatlah! Atau, bagi kalian yang high class pengendara mobil merasa pernah menurunkan kaca mobil lalu kedal-kedul endal-endel merokok, aku sarankan kalian untuk segera mandi taubat nasuha. Bahaya boss, sudahi!
Jalanan itu bukan hanya milik kalian, Kawan. Di belakang dan di samping kalian banyak pengendara lain yang mungkin saja sedang berbunga-bunga dengan pencapaiannya hari itu atau sedang kesal dengan kerjaan yang mereka miliki, lalu abu rokok kalian tiba-tiba terbang mengenai mata mereka. Amsyong banget nasib orang itu karena oknum perokok macam kalian. See, kalian mungkin saja merusak perasaan bahagia sesorang atau justru menambah kemalangan seseorang. Tapi, bukan itu hal yang paling berbahaya.
Abu rokok yang mengenai mata pengendara di belakang kalian bisa meningkatkan risiko kecelakaan. Sangat masuk akal seseorang menjadi tidak fokus dan pandangan kabur ketika abu rokok mengenai mata mereka.
"Ah, itu sama aja kayak kalau orang kelilipan. Tidak perlu dibesar-besarkan," apa kalian pikir demikian?
Sependek sepengetahuan yang aku baca di halodoc.com, kelilipan debu dapat dengan cepat teratasi karena mata kita memproduksi air mata untuk menyingkirkan unsur butir debu. Nah, kalau abu rokok beda lagi. Abu rokok bahkan bisa mengakibatkan luka bakar pada kornea mata.
TBL, TBL, Takut Banget Loh.
Serem, kan?
Kalian para pelaku juga mungkin saja suatu saat menjadi korban dari pelaku lainnya. Jadi, udah, taubat saja. Kita pakai common sense-nya, okay?
Permintaan Kedua
Permintaan kedua tidak sesulit permintaan seorang putri negeri dongeng yang ingin pergi ke pesta dengan kereta kencana. Tenang saja! Hanya permohonan sederhana untuk membuang puntung rokok pada tempatnya.
Rok kesayanganku bernasib nahas, bolong, terkena puntung rokok yang masih menyala dan dibuang sembarangan oleh perokok dan pengendara motor tidak bertanggung jawab tepat di depan pom bensin Ngaliyan, Semarang. Kalau dipikir-pikir lagi, puntung rokok tersebut masih memiliki faktor luck, hanya terkena rokku. Melihat setting tempat kejadian yang tepat di depan pom bensin, bukan tidak mungkin kebakaran bisa saja terjadi. Aku sempat ranting di story WhatsApp perihal ini, melihat respond kawan-kawan perempuanku sudah dapat dipastikan banyak orang yang memiliki pengalaman serupa dan keresahan yang sama.
Sekian surat saya buat. Mohon dibaca dan pikirkan dengan baik.
Sincerely,
Annađź’™
Rabu, 25 November 2020
Eco-Friendly Campus as the Means of environmental Preservation
It’s well-known fact that today our world
gets an environmental damage. The damage can brightly be seen from various
environmental issues such as wildfire, drought, animal extinction, and global
warming. The world agrees that those environmental matters are mostly caused by
human activities. Discerning this phenomenon, all layers of the society must
take a part to be responsible especially government and academia. The
government of Indonesia represented by the minister of research, technology,
and higher education has encouraged the academia to actualize the concept of
eco- friendly campus named green campus[1].
Toward this idea, we are required to take in about the sense of green campus
and to succeed it withal various efforts.
The sense of green campus isn’t about the
green colour of campus’ building, but more importantly it’s about the natural value
and environmental insight inside the campus. Campus as place for civics
academia must be the spot to integrate environmental science into management,
policy, and practices[2]. Recently
this programme is conducted by a huge amount university in all over the world. Broadly
the aim is to attempt at mitigating the effect of global warming and also to
embody all layers of civics academia about preserving and taking care of our
nature. The idea of green campus must rateably go forward with the proper
concept to produce long term outcomes. Furthermore, the proper construct of
green campus must be contrived by a crowd of expert, worked out by all layers
of civics academia, and supported by university policy and management. The
contrivance can be started from establishing an environmental team, conducting
seminar about environmental preservation, designing the eco-friendly parking
area, and banning smoking in all campus areas.
Establishing an environmental team is the
first effort that university can do. This is a crucial and fundamental step due
to the long term outcomes that we want to achieve. Having the special
environmental team is expected to have more systematic and discipline
controller. The expert can place the members of the team into different jobs
like one person is taking responsible for preserving the nature and environment
of A building, two people are handling a trash bank, and others. The next,
conducting seminar becomes important since we know that seminar is one of the affective
ways to learn and to do campaign so that we can together encourage all the
civics to care about environmental preservation. The subsequent, bringing the
design of eco-friendly parking area into reality must be considered due to the
fact that in some universities of developing country they still have improper
parking area. The proper parking area will definitely make the condition nicer
and make everything more efficient. The following effort is prohibiting smoking
to all civics academia as the heading to reduce air defilement and emission
gas. This policy must come with the risk and punishment for those who break
this rule. The last, we also must make personal attempt in succeeding green
campus like bringing our own tumbler and throwing the rubbish in the right
place. Having own tumbler and not littering affect a lot in protecting our
earth because the obviousness shows that plastic trash is the most found trash and it’s included the bottle of mineral water.
Another fact tells that some scarce species of fish in Manado and Wawontulap
went dead because of partaking plastic trash in the sea[3].
It’s just how plastic trash can dangerously cause animal extinction. Based on
the research of Earth Hour Indonesia the trash of bottle plastic needs 450
years to be decomposed. It means when we bring our own tumbler we can decrease
the number of plastic trash and support the eco-friendly campus.
In conclusion, due to the reality that our
world is getting environmental crisis, all the communities especially from
civics academia must have awareness about the idea of green campus and its
practices. There are some stages that can be undertaken to succeed and bolster
the green campus programme as mentioned above. At last, it must be asserted
that nothing will change and protect our nature if we don’t set to the real
action today.
[1]
Ristekdikti, “Konsep Green Campus Jadi Topik Utama Workshop Perencanaan dan
Desain Kampus Perguruan Tinggi Indonesia”, http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2019/04/08/konsep-green-campus-jadi-topik-utama-workshop-perencanaan-dan-desain-kampus-perguruan-tin
(accessed on 9th of Oct 2019, 15.35)
[2] Rama Putra DKK, “Pengembangan Indikator Peran
Serta Pihak Manajemen Perguruan Tinggi dalam Penerapan Konsep Green Campus”, Jurnal
Online Institut Teknologi Nasiona.l No. 2 Vol. 4 2018, Hal 2
[3]
Robby Sunata, “Kenapa Ikan Doyan Makan Plastic?”, https://www.genpi.co/berita/5036/kenapa-ikan-doyan-makan-sampah-plastik
(accessed on 13rd of Oct 2019, 20.14)
Jumat, 08 November 2019
The Problem of Early Marriage
Membaca dari Hati [1]
"Buku ini jangan dipinjamkan ke orang lain sebelum kamu selesai membacanya sampai akhir," pesan Kang Jaza, instruktur dari Pimpina...