Senin, 18 April 2022

Membaca dari Hati [1]






"Buku ini jangan dipinjamkan ke orang lain sebelum kamu selesai membacanya sampai akhir," pesan Kang Jaza, instruktur dari Pimpinan Wilayah Jawa Tengah, tahun lalu sebelum kami berpisah di parkiran.

Ada rasa bersalah dan takut dalam diri saya saat beliau mengatakan hal tersebut karena beberapa hal. Awalnya saya mempertanyakan kenapa harus saya yang diberi buku ini, padahal 100 persen bahkan 1000 persen saya meyakini bahwa saya bukan yang terbaik. Setelah menyelesaikan buku ini, pada akhirnya saya memahami kalau  buku ini bukan tentang siapa yang terbaik, tapi buku ini ada untuk menampar saya dari berbagai arah sekaligus menjadi bekal perjalanan bagi saya. Saya tahu Kang Jaza ingin saya belajar banyak hal dari situ.

Salah satu hal yang saya pelajari dan ingin saya bagikan sebagai pengingat saya kelak adalah tentang membumikan nilai-nilai Islam tanpa membuat negara Islam.

***
Melihat berita yang beredar di media online, kita semua tahu bahwa ada banyak permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari persoalan pejabat korupsi, anggara gorden DPR yang tidak masuk akal, kenaikan bahan pokok makanan, kasus Wadas, sampai dengan eksploitasi dan pelanggaran HAM kerangkeng manusia. Carut-marut. 

Berita-berita ini sudah pasti menuai pelbagai tanggapan dari pembacanya, mulai dari analisa kritis dan kritik dari para aktivis, juga komentar dengan nada kecaman, kemarahan, serta keputusasaan. Tapi, tenang saja karena selalu ada narasi-narasi yang tetap pro pemerintah apapun itu, termasuk membela dengan mengeluarkan argumen perbandingan sulitnya hidup di zaman orde baru. Lucu, ya? Wajar, mengingat sudah menjadi rahasia umum kalau ada profesi yang dalam bahasa kiwari disebut dengan buzzer. Menariknya, sejalan dengan pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah, saya acap kali melihat komentar dengan narasi yang menurut hemat saya merupakan promosi konsep negara khilafah. 

"Bandingkan dengan pemerintahan Islam ketika Khalifah Umar menerima laporan pendeta Mesir yg dianiaya Gubernur Amr bin al-Ash dan putranya. Umar menghukum ayah dan anak tersebut. Keadilan hanya ada dalam Islam," tulis sebuah akun twitter mengomentari postingan berita terkait penolakan laporan dugaan gratifikasi Luhut Binsar Pandjaitan di Tirtoid. 

Karena penasaran, saya memutuskan untuk melihat profil akun yang berkomentar tersebut dan benar saja akun dengan nama #HijrahPeradaban memang secara masif mempromosikan negara khilafah dengan hastag #HijrahPeradaban #TernyataSolusinyaKhilafah #IslamSolusiNegeri

Dari komentar-komentar senada dengan di atas, saya menyadari meskipun organisasi masyarakat yang mengkampanyekan negara khilafah telah dibubarkan, ternyata promosi negara khilafah tetap digaungkan dengan sangat terang-terangan. 

Saya sempat mengulik salah satu kanal YouTube tokoh pembesar yang secara masif menyuarakan gagasan negara khilafah ini. Patut diakui bahwasannya tokoh ini memiliki kemampuan public speaking yang sangat mumpuni, membuka video dengan hook yang menarik dan bridging yang sangat halus. Faktor tersebut pastinya membuat si tokoh terlihat sangat meyakinkan dan mudah untuk membawa penonton masuk ke dalam pokok doktrinasinya. Si tokoh menjelaskan, dalam beberapa hal hanya ada putih dan hitam, halal dan haram. 

"Kalau kamu bukan orang baik, berarti kamu orang jahat. Kalau kamu tidak mau pakai aturan al Qur'an, terus kamu mau pakai aturan apa? aturan sekuler? atauran penjajah? Khilafah itu sistem dari Allah," kira-kira itu kelimat-kalimat yang sempat saya tulis.

Si tokoh juga menutup video-nya dengan premis, ketakutan adalah hasil dari ketidaktahuan yang artinya ketakutan terhadap khilafah adalah hasil ketidaktahuan tentang khilafah.

***
Saya tidak akan mengeluarkan argumen ataupun analisa terkait komentar-komentar dan kampanye negara khilafah ini mengingat pengetahuan saya sangat dangkal dan rawan mblunder. Saya hanya sebatas menceritakan ulang fenomena kampanye negara khilafah yang saya lihat dan apa yang saya baca di buku yang ditulis oleh beliau K.H.  Hasyim Muzadi, Islam Sejati, Islam dari Hati. 

Dalam  buku ini, Mbah Hasyim Muzadi menjelaskan bahwasannya Indonesia merupakan negara yang  terdiri dari banyak agama dan kepercayaan serta wilayah yang sangat luas. Bukan tidak mungkin memeberi makan ego untuk mendirikan negara Islam justru mengakibatkan perpecahan seperti yang terjadi  di India dan Pakistan, Pakistan dan Bangladesh. Perlu dipikirkan juga bahwa banyak permasalahan yang mungkin timbul jika negara Islam dipaksakan berdiri di Indonesia, salah satunya perlawanan dari saudara-saudara kita yang non-Muslim.

Selain itu, Mbah Hasyim Muzadi juga mengajak pembaca untuk turut memahami bahwa secara historis, founding father kita yang beragama Islam seperti Kiai Hasyim Asy'ari, Cokroaminoto, Agus Salim dan nama-nama besar lainnya juga turut andil dan menyetujui bentuk negara Indonesia seperti yang sekarang ini, berlandasakan Pancasila. Mereka menerima tentunya dengan dasar yang kuat, Mitsqoh Madinah atau yang lebih dikenal dengan Piagam Madinah. Terdapat 47 pasal dalam Piagam Madinah yang mengatur tentang hubungan internal Islam, Islam dengan non-Muslim, dan mengajarkan tentang nasionalisme. Di paragraf akhir dalam bab ini, Mbah Hasyim Muzadi menambahkan bahwa memilih bentuk negara seperti Indonesia atau memilih bentuk negara agama adalah perihal ijtihadi, tidak ada kaitannya dengan syari'at, karena Piagam Madinah hanya menyebutkan adalah nilai-nilai yang harus ada dalam negara, bukan bentuk negara-nya. 

Seperti sedang membaca ketidaktahuan beberapa orang perihal di mana posisi hukum-hukum Islam di Indonesia, Mbah Hasyim menarasikan bahwasannya melalui kebebasan untuk membentuk civil society seperti NU dan Muhammadiyah, Indonesia memberi ruang untuk membahas masalah-masalah keislaman dan mengeluarkan fatwa yang mana fatwa ini tidak perlu diikuti oleh seluruh agama, misal saudara kita yang Kristen tidak perlu mengikuti fatwa yang dikeluarkan NU dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya sendiri seperti yang tertera di Mitsqoh Madinah. 

Lebih jauh, Mbah Hasyim seperti menyentil kecarut-marutan yang terjadi sekaligus menjawab orang-orang yang masih ngeyel dan mempertanyakan mengapa Indonesia masih kacau melalui narasi yang untuk mengutipnya pun saya merasa sedikit ngeri, 

"Ada satu yang membuat orang tidak percaya kepada Pancasila karena sila-sila pada Pancasila tidak ada wujudnya di sini. Ketuhanan yang Maha Esa, misalnya, berganti jadi keuangan yang mahakuasa. Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi orang kejam dan sadis. Persatuan Indonesia, menjadi pertengkaran di mana-mana. Kerakyatan tidak ada, yang ada di sini adalah elitisme,"

Jadi, kalau boleh disimpulkan dari kutipan di atas, kecarut-marutan yang ada bukan perkara sistemnya dan khilafah solusinya, tapi manusia-nya yang seharusnya terus memperbaiki kualitas diri untuk lebih amanah dan berintegritas.

***

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip premis dari si tokoh Khilafah special saya dedikasikan untuk para pendukungnya,
"ketakutan adalah hasil dari ketidaktahuan yang artinya, ketakutan terhadap Pancasila dan Indonesia adalah hasil ketidaktahuan kalian tentang negara tempat kalian merawat kehidupan."






Rabu, 09 Maret 2022

Surat untuk Para Perokok

 




Apa kabar, Kawan?  bagaimana keadaan paru-paru kalian? semoga tetap sehat serta rahayu, ya!

Jangan berburuk sangka padaku perihal surat yang aku tulis ini. Aku tidak akan nyinyir tentang pilihan hidup kalian. Pak Juwadi, my father, juga perokok berat yang setiap harinya udah macam kereta asap, mengepul terus menerus. Aku jelas tumbuh dengan asap rokok yang menempel di bajuku sejak aku kecil. Bisa dibilang aku juga a second hand smoker alias perokok pasif. Untuk meyakinkan kalian, biar aku sebutkan beberapa nama idolaku yang juga perokok, Dzawin Nur dan Bryan Barcelona. 

Aku tidak mengeluh untuk itu. Iya, aku legowo.

Meskipun aku menerima, tetap aku putuskan untuk menulis surat ini demi keselamatan kita bersama dan demi meminimalisir hati dongkol ketika di jalan. Tidak banyak yang aku minta, hanya dua.

Permintaan Pertama

Dengan segala kerendahan hati, tolonglah pertimbangkan kondisi dan tempat ketika merokok. Aku pribadi masih bisa bertoleransi dengan berbatang-batang rokok yang kalian bakar di tongrongan, di perkumpulan, juga di angkringan. Tapi, tidak dengan di jalan. Jika kalian merasa pernah merokok sambil mengendarai motor, bertaubatlah! Atau, bagi kalian yang high class pengendara mobil merasa pernah menurunkan kaca mobil lalu kedal-kedul endal-endel merokok, aku sarankan kalian untuk segera mandi taubat nasuha. Bahaya boss, sudahi!

Jalanan itu bukan hanya milik kalian, Kawan. Di belakang dan di samping kalian banyak pengendara lain yang mungkin saja sedang berbunga-bunga dengan pencapaiannya hari itu atau sedang kesal dengan kerjaan yang mereka miliki, lalu abu rokok kalian tiba-tiba terbang mengenai mata mereka. Amsyong banget nasib orang itu karena oknum perokok macam kalian. See, kalian mungkin saja merusak perasaan bahagia sesorang atau justru menambah kemalangan seseorang. Tapi, bukan itu hal yang paling berbahaya. 

Abu rokok yang mengenai mata pengendara di belakang kalian bisa meningkatkan risiko kecelakaan. Sangat masuk akal seseorang menjadi tidak fokus dan pandangan kabur ketika abu rokok mengenai mata mereka. 

"Ah, itu sama aja kayak kalau orang kelilipan. Tidak perlu dibesar-besarkan," apa kalian pikir demikian?

Sependek sepengetahuan yang aku baca di halodoc.com, kelilipan debu dapat dengan cepat teratasi karena mata kita memproduksi air mata untuk menyingkirkan unsur butir debu. Nah, kalau abu rokok beda lagi. Abu rokok bahkan bisa mengakibatkan luka bakar pada kornea mata. 

TBL, TBL, Takut Banget Loh. 

Serem, kan?

Kalian para pelaku juga mungkin saja suatu saat menjadi korban dari pelaku lainnya. Jadi, udah, taubat saja. Kita pakai common sense-nya, okay?

Permintaan Kedua

Permintaan kedua tidak sesulit permintaan seorang putri negeri dongeng yang ingin pergi ke pesta dengan kereta kencana. Tenang saja! Hanya permohonan sederhana untuk membuang puntung rokok pada tempatnya. 

Rok kesayanganku bernasib nahas, bolong, terkena puntung rokok yang masih menyala dan dibuang sembarangan oleh perokok dan pengendara motor tidak bertanggung jawab tepat di depan pom bensin Ngaliyan, Semarang. Kalau dipikir-pikir lagi, puntung rokok tersebut masih memiliki faktor luck, hanya terkena rokku. Melihat setting tempat kejadian yang tepat di depan pom bensin, bukan tidak mungkin kebakaran bisa saja terjadi. Aku sempat ranting di story WhatsApp perihal ini, melihat respond kawan-kawan perempuanku sudah dapat dipastikan banyak orang yang memiliki pengalaman serupa dan keresahan yang sama.

Sekian surat saya buat. Mohon dibaca dan pikirkan dengan baik. 


Sincerely,

Annađź’™


Rabu, 25 November 2020

Eco-Friendly Campus as the Means of environmental Preservation

 

It’s well-known fact that today our world gets an environmental damage. The damage can brightly be seen from various environmental issues such as wildfire, drought, animal extinction, and global warming. The world agrees that those environmental matters are mostly caused by human activities. Discerning this phenomenon, all layers of the society must take a part to be responsible especially government and academia. The government of Indonesia represented by the minister of research, technology, and higher education has encouraged the academia to actualize the concept of eco- friendly campus named green campus[1]. Toward this idea, we are required to take in about the sense of green campus and to succeed it withal various efforts.

The sense of green campus isn’t about the green colour of campus’ building, but more importantly it’s about the natural value and environmental insight inside the campus. Campus as place for civics academia must be the spot to integrate environmental science into management, policy, and practices[2]. Recently this programme is conducted by a huge amount university in all over the world. Broadly the aim is to attempt at mitigating the effect of global warming and also to embody all layers of civics academia about preserving and taking care of our nature. The idea of green campus must rateably go forward with the proper concept to produce long term outcomes. Furthermore, the proper construct of green campus must be contrived by a crowd of expert, worked out by all layers of civics academia, and supported by university policy and management. The contrivance can be started from establishing an environmental team, conducting seminar about environmental preservation, designing the eco-friendly parking area, and banning smoking in all campus areas.

Establishing an environmental team is the first effort that university can do. This is a crucial and fundamental step due to the long term outcomes that we want to achieve. Having the special environmental team is expected to have more systematic and discipline controller. The expert can place the members of the team into different jobs like one person is taking responsible for preserving the nature and environment of A building, two people are handling a trash bank, and others. The next, conducting seminar becomes important since we know that seminar is one of the affective ways to learn and to do campaign so that we can together encourage all the civics to care about environmental preservation. The subsequent, bringing the design of eco-friendly parking area into reality must be considered due to the fact that in some universities of developing country they still have improper parking area. The proper parking area will definitely make the condition nicer and make everything more efficient. The following effort is prohibiting smoking to all civics academia as the heading to reduce air defilement and emission gas. This policy must come with the risk and punishment for those who break this rule. The last, we also must make personal attempt in succeeding green campus like bringing our own tumbler and throwing the rubbish in the right place. Having own tumbler and not littering affect a lot in protecting our earth because the obviousness shows that plastic trash is the most found trash  and it’s included the bottle of mineral water. Another fact tells that some scarce species of fish in Manado and Wawontulap went dead because of partaking plastic trash in the sea[3]. It’s just how plastic trash can dangerously cause animal extinction. Based on the research of Earth Hour Indonesia the trash of bottle plastic needs 450 years to be decomposed. It means when we bring our own tumbler we can decrease the number of plastic trash and support the eco-friendly campus.

In conclusion, due to the reality that our world is getting environmental crisis, all the communities especially from civics academia must have awareness about the idea of green campus and its practices. There are some stages that can be undertaken to succeed and bolster the green campus programme as mentioned above. At last, it must be asserted that nothing will change and protect our nature if we don’t set to the real action today.



[1] Ristekdikti, “Konsep Green Campus Jadi Topik Utama Workshop Perencanaan dan Desain Kampus Perguruan Tinggi Indonesia”, http://sumberdaya.ristekdikti.go.id/index.php/2019/04/08/konsep-green-campus-jadi-topik-utama-workshop-perencanaan-dan-desain-kampus-perguruan-tin (accessed on 9th of Oct 2019, 15.35)

[2]  Rama Putra DKK, “Pengembangan Indikator Peran Serta Pihak Manajemen Perguruan Tinggi dalam Penerapan Konsep Green Campus”, Jurnal Online Institut Teknologi Nasiona.l No. 2 Vol. 4 2018, Hal 2

[3] Robby Sunata, “Kenapa Ikan Doyan Makan Plastic?”, https://www.genpi.co/berita/5036/kenapa-ikan-doyan-makan-sampah-plastik (accessed on 13rd of Oct 2019, 20.14)

Jumat, 08 November 2019

The Problem of Early Marriage



People always have their own reason to do something including the decision to get married. Some of them may consider marriage is a need, some consider that marriage is a way to perfect their religion, some get married because of the demand of age and environment. On the other hand, in this modern era we also can see many people especially female in the teenage getting married. The majority with the early marriage comes from the family with the low education and poor welfare. They think early marriage is the good solution to release the burden in their family. They don’t consider the risk of the early marriage especially for the female related to the forwardness of reproduction vital organ and the psychology of the teenagers.
Early marriage is not good for the reproduction vital organ because it can increase the proximity of getting cervical cancer. In the age between 12-20 years old, reproduction vital organ is still evolving so that it should not have an outside thing, penetration of male sexual organ, inside them when the cervical cell is active. Wherefore, the outside penetration is one of cervical virus’ causes. Another fact is that teenagers also haven’t been ready yet to be pregnant. From the physical readiness commonly they don’t have enough hip bone to bear the baby. A pregnant teenager also psychologically has worse condition than pregnant adult. One of the common psychological interference is baby blue syndrome, a condition where mother’s emotion and mood change drastic after bearing the baby. Therefore, it can lead to mother’s depression. This situation usually happens around 2- 4 weeks. These facts show clearly that early marriage is the bad choice which can cause cervical cancer virus and it can bring to the depression in some cases. Now let’s turn to psychology of teenagers in the general.
Looking at the teenagers’ psychology, we think that teenagers have unstable emotion and somehow they still stay in the egoistic condition. In their age, teenagers are still on their journey to find who they are exactly, so that they are still selfish of thinking about themselves. We cannot deny teenagers still want to explore more about all things, they also still count on their parents for everything. It causes teenagers seem not having ability to solve the problem when they are facing troubles with their partners. These situations effect to the number of divorce. Based on BKKBN NTB, Nusa Tenggara Barat as the area with highest early marriage 2015 also has the high number of divorce case which 21.55 % of them coming from teenager.
The facts tell us obviously to oppose the arguments which aim is to strengthen and consider that teenage marriage is good idea. In fact, teenage marriage only gives the bad effect for psychology of teenagers like causing a divorce due to their labile condition. From physical side, we know that early married can cause some problems for health. This states that there is nothing to agree with the statement teenage marriage is great idea.



Written by Anna Pertiwi

Membaca dari Hati [1]

"Buku ini jangan dipinjamkan ke orang lain sebelum kamu selesai membacanya sampai akhir," pesan Kang Jaza, instruktur dari Pimpina...