"Buku ini jangan dipinjamkan ke orang lain sebelum kamu selesai membacanya sampai akhir," pesan Kang Jaza, instruktur dari Pimpinan Wilayah Jawa Tengah, tahun lalu sebelum kami berpisah di parkiran.
Ada rasa bersalah dan takut dalam diri saya saat beliau mengatakan hal tersebut karena beberapa hal. Awalnya saya mempertanyakan kenapa harus saya yang diberi buku ini, padahal 100 persen bahkan 1000 persen saya meyakini bahwa saya bukan yang terbaik. Setelah menyelesaikan buku ini, pada akhirnya saya memahami kalau buku ini bukan tentang siapa yang terbaik, tapi buku ini ada untuk menampar saya dari berbagai arah sekaligus menjadi bekal perjalanan bagi saya. Saya tahu Kang Jaza ingin saya belajar banyak hal dari situ.
Salah satu hal yang saya pelajari dan ingin saya bagikan sebagai pengingat saya kelak adalah tentang membumikan nilai-nilai Islam tanpa membuat negara Islam.
***
Melihat berita yang beredar di media online, kita semua tahu bahwa ada banyak permasalahan yang terjadi di Indonesia, mulai dari persoalan pejabat korupsi, anggara gorden DPR yang tidak masuk akal, kenaikan bahan pokok makanan, kasus Wadas, sampai dengan eksploitasi dan pelanggaran HAM kerangkeng manusia. Carut-marut.
Berita-berita ini sudah pasti menuai pelbagai tanggapan dari pembacanya, mulai dari analisa kritis dan kritik dari para aktivis, juga komentar dengan nada kecaman, kemarahan, serta keputusasaan. Tapi, tenang saja karena selalu ada narasi-narasi yang tetap pro pemerintah apapun itu, termasuk membela dengan mengeluarkan argumen perbandingan sulitnya hidup di zaman orde baru. Lucu, ya? Wajar, mengingat sudah menjadi rahasia umum kalau ada profesi yang dalam bahasa kiwari disebut dengan buzzer. Menariknya, sejalan dengan pro dan kontra terhadap kebijakan pemerintah, saya acap kali melihat komentar dengan narasi yang menurut hemat saya merupakan promosi konsep negara khilafah.
"Bandingkan dengan pemerintahan Islam ketika Khalifah Umar menerima laporan pendeta Mesir yg dianiaya Gubernur Amr bin al-Ash dan putranya. Umar menghukum ayah dan anak tersebut. Keadilan hanya ada dalam Islam," tulis sebuah akun twitter mengomentari postingan berita terkait penolakan laporan dugaan gratifikasi Luhut Binsar Pandjaitan di Tirtoid.
Karena penasaran, saya memutuskan untuk melihat profil akun yang berkomentar tersebut dan benar saja akun dengan nama #HijrahPeradaban memang secara masif mempromosikan negara khilafah dengan hastag #HijrahPeradaban #TernyataSolusinyaKhilafah #IslamSolusiNegeri
Dari komentar-komentar senada dengan di atas, saya menyadari meskipun organisasi masyarakat yang mengkampanyekan negara khilafah telah dibubarkan, ternyata promosi negara khilafah tetap digaungkan dengan sangat terang-terangan.
Saya sempat mengulik salah satu kanal YouTube tokoh pembesar yang secara masif menyuarakan gagasan negara khilafah ini. Patut diakui bahwasannya tokoh ini memiliki kemampuan public speaking yang sangat mumpuni, membuka video dengan hook yang menarik dan bridging yang sangat halus. Faktor tersebut pastinya membuat si tokoh terlihat sangat meyakinkan dan mudah untuk membawa penonton masuk ke dalam pokok doktrinasinya. Si tokoh menjelaskan, dalam beberapa hal hanya ada putih dan hitam, halal dan haram.
"Kalau kamu bukan orang baik, berarti kamu orang jahat. Kalau kamu tidak mau pakai aturan al Qur'an, terus kamu mau pakai aturan apa? aturan sekuler? atauran penjajah? Khilafah itu sistem dari Allah," kira-kira itu kelimat-kalimat yang sempat saya tulis.
Si tokoh juga menutup video-nya dengan premis, ketakutan adalah hasil dari ketidaktahuan yang artinya ketakutan terhadap khilafah adalah hasil ketidaktahuan tentang khilafah.
***
Saya tidak akan mengeluarkan argumen ataupun analisa terkait komentar-komentar dan kampanye negara khilafah ini mengingat pengetahuan saya sangat dangkal dan rawan mblunder. Saya hanya sebatas menceritakan ulang fenomena kampanye negara khilafah yang saya lihat dan apa yang saya baca di buku yang ditulis oleh beliau K.H. Hasyim Muzadi, Islam Sejati, Islam dari Hati.
Dalam buku ini, Mbah Hasyim Muzadi menjelaskan bahwasannya Indonesia merupakan negara yang terdiri dari banyak agama dan kepercayaan serta wilayah yang sangat luas. Bukan tidak mungkin memeberi makan ego untuk mendirikan negara Islam justru mengakibatkan perpecahan seperti yang terjadi di India dan Pakistan, Pakistan dan Bangladesh. Perlu dipikirkan juga bahwa banyak permasalahan yang mungkin timbul jika negara Islam dipaksakan berdiri di Indonesia, salah satunya perlawanan dari saudara-saudara kita yang non-Muslim.
Selain itu, Mbah Hasyim Muzadi juga mengajak pembaca untuk turut memahami bahwa secara historis, founding father kita yang beragama Islam seperti Kiai Hasyim Asy'ari, Cokroaminoto, Agus Salim dan nama-nama besar lainnya juga turut andil dan menyetujui bentuk negara Indonesia seperti yang sekarang ini, berlandasakan Pancasila. Mereka menerima tentunya dengan dasar yang kuat, Mitsqoh Madinah atau yang lebih dikenal dengan Piagam Madinah. Terdapat 47 pasal dalam Piagam Madinah yang mengatur tentang hubungan internal Islam, Islam dengan non-Muslim, dan mengajarkan tentang nasionalisme. Di paragraf akhir dalam bab ini, Mbah Hasyim Muzadi menambahkan bahwa memilih bentuk negara seperti Indonesia atau memilih bentuk negara agama adalah perihal ijtihadi, tidak ada kaitannya dengan syari'at, karena Piagam Madinah hanya menyebutkan adalah nilai-nilai yang harus ada dalam negara, bukan bentuk negara-nya.
Seperti sedang membaca ketidaktahuan beberapa orang perihal di mana posisi hukum-hukum Islam di Indonesia, Mbah Hasyim menarasikan bahwasannya melalui kebebasan untuk membentuk civil society seperti NU dan Muhammadiyah, Indonesia memberi ruang untuk membahas masalah-masalah keislaman dan mengeluarkan fatwa yang mana fatwa ini tidak perlu diikuti oleh seluruh agama, misal saudara kita yang Kristen tidak perlu mengikuti fatwa yang dikeluarkan NU dan diberi kebebasan menjalankan ibadahnya sendiri seperti yang tertera di Mitsqoh Madinah.
Lebih jauh, Mbah Hasyim seperti menyentil kecarut-marutan yang terjadi sekaligus menjawab orang-orang yang masih ngeyel dan mempertanyakan mengapa Indonesia masih kacau melalui narasi yang untuk mengutipnya pun saya merasa sedikit ngeri,
"Ada satu yang membuat orang tidak percaya kepada Pancasila karena sila-sila pada Pancasila tidak ada wujudnya di sini. Ketuhanan yang Maha Esa, misalnya, berganti jadi keuangan yang mahakuasa. Kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi orang kejam dan sadis. Persatuan Indonesia, menjadi pertengkaran di mana-mana. Kerakyatan tidak ada, yang ada di sini adalah elitisme,"
Jadi, kalau boleh disimpulkan dari kutipan di atas, kecarut-marutan yang ada bukan perkara sistemnya dan khilafah solusinya, tapi manusia-nya yang seharusnya terus memperbaiki kualitas diri untuk lebih amanah dan berintegritas.
***
Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengutip premis dari si tokoh Khilafah special saya dedikasikan untuk para pendukungnya,
"ketakutan adalah hasil dari ketidaktahuan yang artinya, ketakutan terhadap Pancasila dan Indonesia adalah hasil ketidaktahuan kalian tentang negara tempat kalian merawat kehidupan."

Tidak ada komentar:
Posting Komentar