Jangan berburuk sangka padaku perihal surat yang aku tulis ini. Aku tidak akan nyinyir tentang pilihan hidup kalian. Pak Juwadi, my father, juga perokok berat yang setiap harinya udah macam kereta asap, mengepul terus menerus. Aku jelas tumbuh dengan asap rokok yang menempel di bajuku sejak aku kecil. Bisa dibilang aku juga a second hand smoker alias perokok pasif. Untuk meyakinkan kalian, biar aku sebutkan beberapa nama idolaku yang juga perokok, Dzawin Nur dan Bryan Barcelona.
Aku tidak mengeluh untuk itu. Iya, aku legowo.
Meskipun aku menerima, tetap aku putuskan untuk menulis surat ini demi keselamatan kita bersama dan demi meminimalisir hati dongkol ketika di jalan. Tidak banyak yang aku minta, hanya dua.
Permintaan Pertama
Dengan segala kerendahan hati, tolonglah pertimbangkan kondisi dan tempat ketika merokok. Aku pribadi masih bisa bertoleransi dengan berbatang-batang rokok yang kalian bakar di tongrongan, di perkumpulan, juga di angkringan. Tapi, tidak dengan di jalan. Jika kalian merasa pernah merokok sambil mengendarai motor, bertaubatlah! Atau, bagi kalian yang high class pengendara mobil merasa pernah menurunkan kaca mobil lalu kedal-kedul endal-endel merokok, aku sarankan kalian untuk segera mandi taubat nasuha. Bahaya boss, sudahi!
Jalanan itu bukan hanya milik kalian, Kawan. Di belakang dan di samping kalian banyak pengendara lain yang mungkin saja sedang berbunga-bunga dengan pencapaiannya hari itu atau sedang kesal dengan kerjaan yang mereka miliki, lalu abu rokok kalian tiba-tiba terbang mengenai mata mereka. Amsyong banget nasib orang itu karena oknum perokok macam kalian. See, kalian mungkin saja merusak perasaan bahagia sesorang atau justru menambah kemalangan seseorang. Tapi, bukan itu hal yang paling berbahaya.
Abu rokok yang mengenai mata pengendara di belakang kalian bisa meningkatkan risiko kecelakaan. Sangat masuk akal seseorang menjadi tidak fokus dan pandangan kabur ketika abu rokok mengenai mata mereka.
"Ah, itu sama aja kayak kalau orang kelilipan. Tidak perlu dibesar-besarkan," apa kalian pikir demikian?
Sependek sepengetahuan yang aku baca di halodoc.com, kelilipan debu dapat dengan cepat teratasi karena mata kita memproduksi air mata untuk menyingkirkan unsur butir debu. Nah, kalau abu rokok beda lagi. Abu rokok bahkan bisa mengakibatkan luka bakar pada kornea mata.
TBL, TBL, Takut Banget Loh.
Serem, kan?
Kalian para pelaku juga mungkin saja suatu saat menjadi korban dari pelaku lainnya. Jadi, udah, taubat saja. Kita pakai common sense-nya, okay?
Permintaan Kedua
Permintaan kedua tidak sesulit permintaan seorang putri negeri dongeng yang ingin pergi ke pesta dengan kereta kencana. Tenang saja! Hanya permohonan sederhana untuk membuang puntung rokok pada tempatnya.
Rok kesayanganku bernasib nahas, bolong, terkena puntung rokok yang masih menyala dan dibuang sembarangan oleh perokok dan pengendara motor tidak bertanggung jawab tepat di depan pom bensin Ngaliyan, Semarang. Kalau dipikir-pikir lagi, puntung rokok tersebut masih memiliki faktor luck, hanya terkena rokku. Melihat setting tempat kejadian yang tepat di depan pom bensin, bukan tidak mungkin kebakaran bisa saja terjadi. Aku sempat ranting di story WhatsApp perihal ini, melihat respond kawan-kawan perempuanku sudah dapat dipastikan banyak orang yang memiliki pengalaman serupa dan keresahan yang sama.
Sekian surat saya buat. Mohon dibaca dan pikirkan dengan baik.
Sincerely,
Annađź’™